|
Trubus
Edisi: Senin,
04 September 2006 08:06:42
Teripang
Akhiri Derita Tumor Lambung
Tumor
lambung itu datang dengan isyarat ruam-ruam merah di permukaan
kulit Retno Dewi Kurniati yang putih. Demam kemudian mengiringinya.
Ia menduga itu gejala serangan cacar air. Namun, 4 jam
berselang, kerongkongan perempuan 41 tahun itu seperti
tersumbat. Betapa sulitnya bernapas saat itu. Ia merasa
maut menjemput sehingga dengan terbata-bata meminta maaf
kepada suami.
Mendengar kata-kata sang istri, Danu Ismedi-suami Retno-hanya
tertegun. Saya mengira istri saya terkena serangan jantung,
kenang Danu.
Tak tega melihat penderitaan istri, keesokan
harinya Danu bergegas membawa Retno ke dokter. Saran dokter,
agar Retno diperiksa di Rumahsakit Mitra Internasional,
Jatinegara, Jakarta Timur. Namun sebelumnya, ibu dua anak
itu mesti dirontgen dan cek darah.
Di rumahsakit rujukan, dokter spesialis
penyakit dalam memeriksa hasil tes darah dan rontgen.
Kesimpulan dokter: tak ada masalah pada jantung Retno.
Dokter menduga, ia hanya menderita gastroartritis alias
radang lambung. Oleh sebab itu, Retno hanya diberi resep
obat untuk mengurangi mual dan kembung seperti yang diberikan
pada penderita maag.
Endoskopi
Semakin hari derita Retno kian bertambah.
Selain sesak napas yang semakin kerap kambuh, perutnya
juga membuncit. Di kantor, banyak rekan yang menyangka
saya hamil, ujar Retno. Dua pekan kemudian, Danu membawa
Retno ke salah seorang kerabatnya yang juga dokter spesialis
penyakit dalam. Hasil diagnosis kerabatnya itu pun sama:
Retno hanya menderita gastroartritis.
Karena tak ada gejala membaik, Retno mencoba
pengobatan alternatif. Sambil mengkonsumsi obat dokter,
ia juga mengasup herbal. Sayang, sebulan mengkonsumsi
herba itu tak juga mengurangi derita Retno. Ia pun mencoba
pengobatan alternatif berupa terapi aura. Hasilnya sama,
tak ada perubahan berarti.
Retno kembali berkonsultasi dengan dokter
klinik di tempatnya bekerja. Dokter menyarankan untuk
menemui salah seorang dokter spesialis penyakit dalam
lainnya di rumahsakit tempat ia memeriksakan diri pertama
kali. Karena penasaran, akhirnya Retno menuruti.
Pada Mei 2005, Retno menemui dokter yang
disarankan itu. Ia pun menceritakan keluhan dan aneka
pengobatan yang tak kunjung menyembuhkan penyakitnya.
Sang dokter akhirnya menyarankan untuk dilakukan endoskopi.
Setelah dibius, sebuah kamera mikro dimasukkan ke mulut
Retno. Secara perlahan kamera itu menyusuri kerongkongan.
Dibakar
Ketika kamera mencapai lambung, dokter
melihat kejanggalan. Pada dinding lambung terdapat beberapa
benjolan. Pada lambung istri Anda terdapat polip, kata
Danu menirukan ucapan dokter. Menurut dr Arijanto Jonosewojo
SpPD, spesialis penyakit dalam RS Dr Soetomo, Surabaya,
polip lambung semacam tumor. Seperti halnya tumor, polip
merupakan pertumbuhan sel dinding lambung (mukosa) yang
abnormal. Penyebabnya belum jelas. Kemungkinan besar disebabkan
faktor genetik, katanya.
Polip menyebabkan produksi asam lambung
meningkat. Akibatnya, perut kembung. Dalam jangka waktu
tertentu, polip dapat berubah menjadi kanker. Oleh sebab
itu harus segera ditangani. Pada tahap awal, pasien diberi
obat-obatan untuk meningkatkan kekebalan tubuh sehingga
mematikan sel tumor.
Jika sudah membesar, polip harus dibakar.
Itulah yang ditawarkan dokter kepada Retno. Meski mulanya
ngeri, akhirnya Retno menyanggupi. Pada Juni 2005, ia
kembali menemui sang dokter. Setelah dibius, kamera mikro
dan alat pembakar berupa batang elastis sebesar sapu lidi
dimasukkan ke dalam lambung melalui mulut. Ujung alat
berbahan logam yang dipanaskan. Kemudian, ujung alat itu
disentuhkan satu per satu pada benjolan-benjolan di dinding
lambung hingga luruh.
Operasi itu berjalan singkat, hanya 15
menit. Setelah siuman, Retno diperbolehkan pulang. Agar
benar-benar sembuh, Retno dibekali 3 obat berupa tablet
dan 1 obat cair. Obat tablet dikonsumsi 3 kali sehari
masing-masing 1 tablet; obat cair masing-masing 1 sendok
makan. Selama penyembuhan, Retno mesti disiplin mengkonsumsi
obat. Jika luput, terapi mesti dilakukan dari awal. Ia
pun harus berpantang makanan yang menghasilkan gas saat
dicerna di lambung, seperti kubis, daun singkong, cokelat,
dan keju.
Setiap dua pekan, Retno memeriksakan diri.
Tak terasa, delapan bulan sudah wanita kelahiran Bogor
itu menjalani proses penyembuhan. Selama itu pula ia terus-menerus
mengkonsumsi obat-obatan kimia. Namun, kesembuhan tak
juga menghampiri. Buktinya saya harus minum obat terus.
Berarti lambung saya belum sembuh, katanya.
Pada Maret 2006, ia membaca Trubus yang
memuat artikel tentang khasiat jeli teripang untuk mengobati
penyakit lambung. Karena berharap sembuh, Retno pun menghubungi
salah satu agen dan memesan jeli teripang. Jeli gamat-sebutan
teripang di Malaysia-itu dikonsumsi 3 kali sehari masing-masing
1 sendok makan. Khawatir menimbulkan efek buruk, Retno
berhenti mengkonsumsi obat dokter.
Tiga hari mengkonsumsi jeli teripang,
kondisi tubuh Retno mulai membaik. Badan saya lebih fit
dan tidur lebih nyenyak, katanya. Keesokan harinya Retno
memeriksakan diri. Saat diperiksa, dokter menyatakan kondisi
lambungnya sudah membaik. Padahal, pada pemeriksaan sebelumnya,
tak satu pun komentar itu terucap dari sang dokter. Ia
pun tak dianjurkan lagi untuk memeriksakan diri. Untuk
berjaga-jaga, dokter hanya meresepkan satu jenis obat.
Antiangiogenesis
Keampuhan gamat mengusir tumor telah dibuktikan
Tong Y, dkk, dari Divisi Farmakologi Antitumor, State
Key Laboratory of Drug Research, Shanghai Institute of
Materia Medica, Chinese Academy of Sciences, Shanghai,
Cina. Tong mengisolasi saponin sulfat dari teripang Pentancta
quadrangulari yang disebut philinopside A. Dengan menyuntikkan
2-10 mikroliter philinopside A pada aorta tikus, sanggup
mencegah pembentukan pembuluh darah mikro baru (angiogenesis)
pada sel tumor. Akibatnya, sel tumor tidak mendapat pasokan
nutrisi sehingga sel urung berkembang dan akhirnya mati.
Hasil itu membuktikan bahwa philinopside A pada teripang
berpotensi sebagai antitumor.
Nun di Rusia, Popov AM, periset Pacific
Institute of Bioorganic Chemistry, Far East Division of
the Russian Academy of Sciences, Vladivostok, Rusia,
juga meneliti khasiat teripang mengatasi tumor. Ia membandingkan
efek sitotoksik antara teripang dan ginseng. Pada pemberian
5-20 mikrogram ginsenosida-karbohidrat pada ginseng-tidak
memberikan efek sitotoksik yang signifi kan. Sedangkan
glikosida dari teripang seperti echinosida A dan B, holothurin
A dan B, holotoxin A1, dan curcumariosida G1, mempunyai
aktivitas sitotoksik signifi kan. Hal itu mengukuhkan
khasiat teripang yang berpotensi antitumor dan antikanker.
Beragam senyawa aktif yang terkandung
dalam teripang itulah yang berperan mengatasi polip lambung
alias tumor lambung. Dengan mengkonsumsi ekstrak teripang
secara rutin, Retno Dewi Kurniati akhirnya sembuh dari
derita polip lambung. (Imam Wiguna/Peliput: Vina Fitriani)
GABUNG
USAHA SANTAI......TAPI MENGHASILKAN UANG ....GAK
PERCAYA ..
KLIK
DISINI |
|